Jumat, 22 November 2019

Memoar : Aku dan Imamku


Sore itu ketika senja menampilkan gradasi warna jingga yang menawan, ditemani deburan ombak dan semilir angin laut nan lembut aku dan kamu bertemu. Aku, kamu dan seorang teman penghubung perkenalan kita. Pertemuan pertama yang cukup kaku dan canggung, namun ada niat baik yang menyertainya. Sore itu aku lebih banyak diam, memperhatikan pembicaraan kalian sambil menerka-nerka lelaki seperti apa dirimu. Dikala malam menyapa, kamu pun ikut menyapaku dalam obrolan aplikasi gawaiku. Aku dan kamu saling memperkenalkan pribadi masing-masing hingga kamu pun memberiku pertanyaan yang harus ku jawab dengan petunjuk dan bimbingan Rabb ku.

Tak menghitung minggu, aku dan kamu kembali bertemu, kali ini ditemani malaikat tak bersayapku. Pertemuan antara calon mertua dan menantu. Aku kembali memilih diam, memperhatikan percakapanmu dengan ibu terkadang sesekali mencuri pandang ke arahmu dan sepertinya kamu tak menyadari itu. Aku diam bukan karena tak ingin bicara, namun didekatmu rasa malu lebih mendominasi diriku apalagi saat ibu kembali menanyakan keputusanku atas niat baikmu. Malu-malu tapi mau, begitulah perasaanku saat itu.

Pertemuan ketiga aku dan kamu di lereng gunung sago, di rumahmu bersama ibumu yang insya Allah akan menjadi ibuku juga nantinya. Pertemuan pertama aku dan keluargamu. Antara gugup, grogi, dan canggung serta malu membaur jadi satu. Aku yang cerewet berubah menjadi pendiam. Aku hanya bicara ketika ibumu bertanya padaku dan sepertinya kamu greget sekali dengan kelakuanku. Berulang kali kamu menyuruhku untuk membuka diri dan memulai obrolan dengan ibumu. Sebenarnya aku ingin banyaj bicara tapi lidahku seakan beku. Namun yang pasti rangkaian pertemuan itu adalah awal dari kisah kita.

Dari rangkain pertemuan itu aku menyadari, begitu indah skenario jodoh yang dirancang Sang Pencipta untuk kita. Memang perkara jodoh adalah misteri Ilahi seperti halnya rezeki dan maut. Ketika takdir itu memilih kita, seberapapun usaha kita untuk menunda, deadlinenya tak akan berubah sedetikpun. Pun seberapa sempurna kita merencanakannya namun jika belum waktunya takdir itu mendekat maka rencana hanya akan tinggal rencana.

Memoar : Aku dan Imamku

Sore itu ketika senja menampilkan gradasi warna jingga yang menawan, ditemani deburan ombak dan semilir angin laut nan lembut aku dan ka...