Kamis, 07 September 2017

Novel Kehidupan

Aku membenci hidup yang ku jalani. Entah sejak kapan aku mulai tak menyukai tokoh hidup yang ku lakoni. Menurutku dia terlalu lemah untuk hidup di dunia yang kejam ini. Dia terlalu mudah untuk di permainkan. Terkadang aku berusaha keluar dari naskah yang telah di berikan Sang Sutradara hidup padaku. Namun sebagai tokoh yang dipilih bagaimanapun aku berusaha untuk merubah kisah seperti alur yang ku inginkan tetap saja tidak bisa. Aku ingin menceritakan padamu hidup tokoh yang ku perankan ini. Aku tak peduli apakah kau akan mendengarkannya atau tidak, yang jelas simak saja ceritaku ini.

Tokoh hidupku adalah seorang perempuan yang plin plan, terlalu hati-hati dan sangat mengagung-agungkan cinta. Dia mudah sekali dalam merubah ekspresi dihadapan orang lain. Dia suka keramaian namun entah kenapa selalu sendiri dan kesepian. Terkadang aku juga iba melihatnya yang bersikap seakan tidak peduli, namun kenyataannya disaat sendiri dia memikirkan segalanya dan selalu melimpahkan kesalahan pada dirinya sendiri. Terkadang dia juga optimis dengan hidup yang dijalaninya tapi aku lebih sering melihat dia pesimis dalam menjalani hidup ini. Satu hal yang ku benci darinya adalah dia selalu mengalah terhadap cintanya. Tak peduli berapa kalipun dia merasa sakit dia selalu saja tersenyum dihadapan cintanya. Aku muak melihatnya seperti itu. Apa salahnya jika dia marah karena dikhianati?apa salahnya dia menangis karena hatinya yang sakit?kalau perlu dia mencaci dan memaki mereka-meraka yang telah membuat hatinya terus tersakiti. Tapi dia selalu bersikap seolah-olah tidak terjadi apa-apa, dia slalu bersikap seakan semua hal menyakitkan itu tidak pernah terjadi.


Memoar : Aku dan Imamku

Sore itu ketika senja menampilkan gradasi warna jingga yang menawan, ditemani deburan ombak dan semilir angin laut nan lembut aku dan ka...